Buku Panduan Pembelajaran Mendalam untuk Guru Sejarah Fase F Kelas 11 dan 12 SMA/MA/SMK/MAK Kurikulum Merdeka Semester 1 dan 2
Review Buku Panduan Pembelajaran Mendalam Mata Pelajaran Sejarah Fase F Kelas XI–XII SMA/MA/SMK/MAK
1. Pendahuluan: Mengapa Panduan Ini Penting bagi Guru Sejarah?
Pembelajaran sejarah di jenjang SMA/MA, khususnya pada Fase F (kelas XI dan XII), selama bertahun-tahun menghadapi tantangan klasik: materi yang padat, dominasi hafalan, serta keterputusan antara peristiwa masa lalu dan realitas kehidupan murid masa kini. Dalam konteks inilah Panduan Mata Pelajaran Sejarah dan Sejarah Tingkat Lanjut Fase F hadir sebagai dokumen strategis yang tidak sekadar bersifat administratif, tetapi berfungsi sebagai penuntun pedagogis bagi guru sejarah.
Panduan ini dirancang untuk membantu guru menerjemahkan Capaian Pembelajaran (CP) ke dalam praktik pembelajaran di kelas melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Artinya, sejarah tidak lagi diajarkan sebagai rangkaian peristiwa kronologis yang harus diingat, tetapi sebagai proses memahami makna, nilai, dan relevansi peristiwa masa lalu bagi kehidupan masa kini dan masa depan murid.
Sejak bagian awalnya, panduan ini sudah menegaskan bahwa pembelajaran sejarah idealnya bersifat bermakna, kontekstual, berpusat pada murid, dan mendorong kesadaran sejarah. Ini menjadi sinyal kuat bahwa guru sejarah dituntut untuk bertransformasi, tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator pengalaman belajar.
2. Kata Pengantar: Arah Filosofis Pembelajaran Sejarah Mendalam
Bagian Kata Pengantar memberikan fondasi filosofis yang kuat mengenai tujuan penyusunan panduan ini. Ditekankan bahwa panduan lahir dari proses refleksi, umpan balik lapangan, dan penyesuaian dengan regulasi terbaru. Hal ini menunjukkan bahwa dokumen ini bukan sekadar produk kebijakan dari atas, melainkan hasil dialog antara kebijakan dan praktik pendidikan di lapangan.
Dalam kata pengantar ditegaskan bahwa:
-
Kurikulum adalah alat utama untuk mewujudkan pendidikan bermutu.
-
Guru membutuhkan panduan operasional untuk menerjemahkan CP ke dalam pembelajaran nyata.
-
Pembelajaran harus selaras dengan Standar Proses: interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi murid.
Yang menarik, panduan ini secara eksplisit menempatkan murid sebagai subjek pembelajaran. Murid didorong untuk:
-
Mengemukakan gagasan,
-
Memilih dan menemukan minatnya,
-
Mengembangkan kemampuan berpikir,
-
Memecahkan masalah kehidupan nyata.
Dalam konteks sejarah, ini berarti murid tidak hanya “mempelajari apa yang terjadi”, tetapi juga mengapa peristiwa itu penting, bagaimana dampaknya, dan nilai apa yang dapat dipetik. Dengan demikian, sejarah berfungsi sebagai wahana pembentukan karakter, nalar kritis, dan identitas kebangsaan.
3. Daftar Isi: Struktur Panduan yang Sistematis dan Progresif
Ditinjau dari Daftar Isi, panduan ini memiliki struktur yang runtut dan logis, sangat membantu guru dalam memahami alur berpikir yang diharapkan. Panduan disusun dalam lima bagian utama:
-
Pendahuluan
-
Capaian Pembelajaran
-
Pemetaan Materi Esensial
-
Perencanaan Pembelajaran Mendalam
-
Glosarium
Struktur ini menunjukkan bahwa guru tidak langsung “dilempar” ke contoh perangkat ajar, tetapi diajak terlebih dahulu memahami:
-
Problematika pembelajaran sejarah,
-
Rasional dan tujuan mata pelajaran,
-
Hakikat CP,
-
Materi esensial yang perlu diprioritaskan.
Bagi guru sejarah kelas XI dan XII, pendekatan ini sangat penting karena pembelajaran Fase F berada pada tahap pendalaman dan refleksi, bukan sekadar pengenalan konsep. Daftar isi juga memperlihatkan bahwa pembelajaran mendalam menjadi benang merah utama, khususnya pada bagian perencanaan pembelajaran.
4. Pendahuluan: Diagnosis Jujur atas Masalah Pembelajaran Sejarah
Bagian Pendahuluan merupakan salah satu bagian paling kuat dalam panduan ini. Di sini, penulis tidak menutup-nutupi berbagai persoalan nyata yang dihadapi guru sejarah di kelas. Setidaknya terdapat lima masalah utama yang diidentifikasi:
-
Materi terlalu luas dan padat, sehingga guru cenderung mengejar target ketuntasan materi.
-
Kurangnya kontekstualisasi, membuat sejarah terasa jauh dari kehidupan murid.
-
Mindset teacher-centered, murid kurang diberi ruang sebagai agen pembelajaran.
-
Minimnya kreativitas pedagogis, baik dalam metode, model, maupun pendekatan.
-
Ego sektoral mata pelajaran, yang menghambat pembelajaran lintas disiplin.
Identifikasi masalah ini sangat relevan dengan realitas pembelajaran sejarah di SMA/MA. Banyak guru sejarah mengakui bahwa keterbatasan waktu dan tuntutan administrasi sering membuat pembelajaran terjebak pada ceramah dan hafalan.
Panduan ini kemudian menawarkan pembelajaran mendalam sebagai solusi. Pembelajaran mendalam diposisikan bukan sebagai metode tunggal, tetapi sebagai pendekatan holistik yang:
-
Memfokuskan pembelajaran pada materi esensial,
-
Mengaitkan sejarah dengan konteks kekinian,
-
Mengaktifkan peran murid,
-
Mendorong kolaborasi lintas disiplin.
Dengan demikian, sejarah tidak berdiri sendiri, melainkan dapat berkolaborasi dengan geografi, sosiologi, ekonomi, bahkan ilmu alam untuk memahami peristiwa secara lebih utuh.
5. Tujuan, Sasaran, dan Struktur Panduan: Jelas dan Terarah
Pada bagian tujuan, panduan ini secara tegas menyatakan bahwa dokumen ini disusun untuk memandu guru memahami dan menerapkan pembelajaran sejarah secara mendalam dalam Kurikulum Merdeka. Fokusnya bukan hanya pada “apa yang diajarkan”, tetapi “bagaimana mengajarkannya”.
Sasaran panduan ini mencakup guru sejarah SMA/MA, termasuk guru Sejarah Tingkat Lanjut. Artinya, guru kelas XI dan XII menjadi target utama, karena pada fase inilah murid diharapkan mencapai tingkat pemahaman sejarah yang lebih reflektif dan kritis.
Struktur panduan yang dijelaskan kembali pada bagian ini menegaskan bahwa:
-
Pembelajaran mendalam bukan tambahan, tetapi inti pendekatan.
-
CP menjadi pijakan utama, bukan sekadar dokumen formal.
-
Guru diberi ruang untuk berkreasi sesuai konteks satuan pendidikan.
6. Relevansi Panduan bagi Guru Sejarah Kelas XI dan XII
Bagi guru sejarah Fase F SMA/MA, panduan ini memiliki beberapa nilai strategis:
-
Sebagai alat refleksi profesional
Guru diajak mengevaluasi praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan: apakah sudah bermakna, kontekstual, dan berpusat pada murid? -
Sebagai jembatan antara CP dan praktik kelas
Banyak guru memahami CP secara normatif, tetapi kesulitan menerapkannya. Panduan ini menjembatani kesenjangan tersebut. -
Sebagai penguat identitas mata pelajaran sejarah
Sejarah tidak diposisikan sebagai pelajaran hafalan, melainkan sebagai sarana membangun kesadaran sejarah, empati, dan penalaran kritis. -
Sebagai dasar pengembangan perangkat ajar
Meskipun contoh konkret dibahas di bagian lain, pendahuluan dan kata pengantar sudah memberikan arah pedagogis yang jelas.
7. Catatan Kritis dan Refleksi
Meski panduan ini sangat komprehensif secara konseptual, tantangan terbesar tetap terletak pada implementasi di lapangan. Guru membutuhkan:
-
Pelatihan berkelanjutan,
-
Komunitas belajar,
-
Dukungan kepemimpinan sekolah.
Namun demikian, sebagai dokumen rujukan, panduan ini sudah menunjukkan arah yang tepat: menggeser pembelajaran sejarah dari sekadar transfer pengetahuan menuju pembentukan pemahaman mendalam dan kesadaran sejarah murid.
8. Penutup
Secara keseluruhan, Panduan Mata Pelajaran Sejarah dan Sejarah Tingkat Lanjut Fase F merupakan dokumen penting dan relevan bagi guru sejarah kelas XI dan XII SMA/MA. Berdasarkan kata pengantar, daftar isi, dan pendahuluannya, panduan ini menegaskan bahwa pembelajaran sejarah harus:
-
Bermakna,
-
Kontekstual,
-
Berpusat pada murid,
-
Berorientasi pada pembelajaran mendalam.
Bagi guru yang ingin meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah di era Kurikulum Merdeka, panduan ini bukan sekadar bacaan wajib, tetapi mitra reflektif dalam perjalanan profesional sebagai pendidik sejarah.
Baca Online dan Link Download
Kumpulan Buku Panduan Pembelajaran Mendalam:

Posting Komentar