Perbedaan Pembelajaran Mendalam vs Pembelajaran Dangkal/Permukaan: Konsep, Ciri, dan Implikasi dalam Pendidikan
Daftar Isi
Perbedaan Pembelajaran Mendalam/Deep Learning vs Pembelajaran Permukaan/Surface Leraning atau Pembelajaran Dangkal/Shallow Learning: Konsep, Ciri, dan Implikasi dalam Pendidikan_Ada istilah pembelajaran mendalam/deep learning berarti ada lawan/antonimnya yakni pembelajaran dangkal/permukaan/surface learning
Dalam dunia pendidikan modern saat ini, dua istilah yang semakin populer dan sering dibahas adalah pembelajaran mendalam (deep learning) dan pembelajaran permukaan (surface learning). Keduanya menggambarkan dua pendekatan belajar yang sangat berbeda baik dari segi motivasi siswa, cara memahami materi, proses kognitif yang terlibat, hingga hasil belajar jangka panjang. Pemahaman terhadap kedua pendekatan ini penting bagi guru, pelatih, orang tua, maupun pengembang kurikulum agar dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan murid.
Artikel ini akan membahas secara lengkap dan komprehensif mengenai perbedaan pembelajaran mendalam vs pembelajaran permukaan, bagaimana keduanya muncul, ciri khas masing-masing, contoh penerapan di kelas, faktor yang memengaruhi, serta mengapa pembelajaran mendalam menjadi pendekatan yang sangat relevan dalam pengembangan kompetensi abad ke-21.
A. Pengertian Pembelajaran Mendalam/Deep Learning
Pembelajaran Mendalam adalah pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.
Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan belajar di mana peserta didik tidak sekadar menghafal informasi, tetapi berusaha memahami makna, konsep, hubungan antaride, serta aplikasi nyata dari materi yang dipelajari. Pada pendekatan ini, siswa aktif membangun pengetahuan baru melalui proses berpikir tingkat tinggi seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Istilah ini sering dikaitkan dengan teori konstruktivisme, yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh peserta didik melalui pengalaman, refleksi, dan interaksi. Pembelajaran mendalam bukanlah sekadar menguasai materi untuk diuji, tetapi memahami konsep agar dapat digunakan dalam berbagai konteks.
Ciri-ciri pembelajaran mendalam
Ciri utama pembelajaran mendalam adalah:
- Motivasi belajar berasal dari keingintahuan, bukan tekanan nilai.
- Siswa mengaitkan materi dengan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya.
- Terjadi pemahaman konsep, bukan sekadar hafalan.
- Ada kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
- Murid dapat menerapkan konsep dalam situasi baru.
Pendekatan ini sangat penting dalam dunia yang terus berubah, di mana kemampuan adaptasi, pemecahan masalah, dan kreativitas menjadi kompetensi utama.
B. Pengertian Pembelajaran Permukaan/Surface Learning
Berbeda dengan pembelajaran mendalam, pembelajaran permukaan adalah pendekatan di mana siswa mempelajari materi secara dangkal, hanya menghafal informasi tanpa memahami maknanya secara mendalam. Tujuan utama pembelajaran permukaan biasanya adalah untuk lulus ujian, menyelesaikan tugas, atau memenuhi tuntutan akademik, bukan untuk memahami konsep secara komprehensif.
Pendekatan ini sering muncul akibat tekanan eksternal seperti tuntutan kurikulum yang padat, metode mengajar yang terlalu berpusat pada guru, atau evaluasi yang hanya fokus pada hafalan.
Ciri-ciri pembelajaran permukaan
Ciri utama pembelajaran permukaan adalah:
- Fokus pada menghafal fakta dan prosedur.
- Motivasi belajar didorong oleh keinginan mendapatkan nilai tinggi.
- Siswa tidak mengaitkan materi dengan kehidupan nyata.
- Pengetahuan bersifat jangka pendek dan mudah dilupakan.
- Tidak ada proses berpikir tingkat tinggi dalam memahami materi.
Meskipun pembelajaran permukaan sering dianggap negatif, pendekatan ini tetap memiliki fungsi tertentu, seperti ketika murid harus menghafal kosakata atau fakta dasar sebelum masuk ke pemahaman yang lebih kompleks.
C. Perbedaan Motivasi dalam Pembelajaran Mendalam dan Permukaan
Motivasi merupakan faktor yang membedakan kedua pendekatan belajar ini secara signifikan.
Dalam pembelajaran mendalam, motivasi datang dari dalam diri siswa (motivasi intrinsik). Mereka belajar karena ingin tahu, ingin memahami, dan ingin mampu memecahkan masalah. Proses belajar menjadi pengalaman yang bermakna dan memberikan kepuasan tersendiri.
Sementara itu, dalam pembelajaran permukaan, motivasi biasanya bersifat ekstrinsik. Siswa belajar karena ingin mendapatkan nilai tinggi, menghindari hukuman, atau memenuhi tuntutan dari orang tua atau guru. Belajar menjadi aktivitas yang harus dilakukan, bukan yang ingin dilakukan.
Perbedaan motivasi ini sangat berpengaruh terhadap cara murid memproses informasi, keaktifan mereka selama pembelajaran, serta kualitas hasil belajar.
D. Perbedaan Cara Berpikir dan Proses Kognitif
Dari segi proses berpikir, kedua pendekatan belajar ini melibatkan kemampuan kognitif yang sangat berbeda.
Pada pembelajaran mendalam, murid menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, sintesis, evaluasi, dan penciptaan. Mereka tidak hanya memproses informasi, tetapi juga mengevaluasi dan menghubungkan konsep-konsep untuk mendapatkan makna baru.
Sementara pada pembelajaran permukaan, proses berpikir cenderung berada pada level rendah seperti mengingat dan memahami tanpa analisis lebih dalam. Murid tidak menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, sehingga konsep yang dipelajari berdiri sendiri dan mudah dilupakan.
Proses kognitif tingkat tinggi yang muncul dalam pembelajaran mendalam membuat murid lebih mampu memindahkan pengetahuan ke konteks baru dan lebih siap menghadapi masalah kompleks.
E. Perbedaan Strategi Belajar yang Digunakan Murid
Strategi belajar yang digunakan murid sangat memengaruhi kedalaman pemahaman.
Dalam pembelajaran mendalam, murid biasanya menggunakan strategi seperti:
- membuat catatan reflektif,
- bertanya dan menggali makna,
- mencari hubungan antar materi,
- berdiskusi,
- meneliti atau menulis analisis,
- membuat contoh dan aplikasi nyata.
Strategi ini membantu murid memahami materi secara menyeluruh dan mendorong pemikiran kritis.
Sementara dalam pembelajaran permukaan, strategi belajar yang digunakan meliputi:
- menghafal tanpa memahami,
- membaca cepat tanpa analisis,
- belajar dengan sistem kebut semalam (SKS),
- menyalin jawaban tanpa refleksi,
- mendengar pasif tanpa interaksi atau pertanyaan.
Strategi permukaan memang dapat memberikan hasil cepat dalam jangka pendek, tetapi tidak membantu dalam pengetahuan jangka panjang.
F. Dampak Jangka Panjang terhadap Pemahaman dan Kinerja Akademik
Perbedaan mendalam dan permukaan belajar tidak hanya terlihat selama proses pembelajaran, tetapi juga dalam hasil jangka panjang.
Pembelajaran mendalam cenderung menghasilkan:
- pemahaman konsep yang bertahan lama,
- kemampuan transfer pengetahuan ke situasi baru,
- peningkatan keterampilan berpikir kritis,
- motivasi belajar berkelanjutan,
- kemampuan memecahkan masalah secara kreatif,
- kesiapan menghadapi dunia kerja.
Sebaliknya, pembelajaran permukaan biasanya menghasilkan:
- pemahaman yang dangkal dan mudah hilang,
- ketidakmampuan menggunakan pengetahuan di luar konteks ujian,
- kesulitan menyelesaikan soal yang membutuhkan analisis,
- motivasi belajar yang mudah hilang,
- ketergantungan pada guru.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
G. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Pembelajaran Mendalam dan Permukaan
Banyak faktor yang memengaruhi kecenderungan siswa untuk menerapkan pendekatan mendalam atau permukaan, antara lain:
Faktor dari dalam diri murid
- minat terhadap materi,
- motivasi intrinsik,
- self-regulated learning,
- rasa percaya diri,
- pengalaman belajar sebelumnya.
Faktor dari guru
- cara guru menyajikan materi,
- metode mengajar (diskusi, proyek, problem-based learning),
- kemampuan memberikan umpan balik,
- kemampuan menciptakan interaksi bermakna.
- Faktor dari lingkungan belajar
- kultur kelas,
- tuntutan kurikulum,
- bentuk evaluasi,
- tekanan akademik.
Jika evaluasi hanya mengukur hafalan, maka siswa lebih cenderung menggunakan pembelajaran permukaan. Sebaliknya, jika evaluasi menuntut analisis dan penerapan konsep, siswa lebih terdorong menggunakan pembelajaran mendalam.
H. Contoh Situasi di Kelas: Pembelajaran Mendalam vs Permukaan
Untuk memahami perbedaan kedua pendekatan tersebut, mari lihat contoh penerapannya dalam situasi kelas.
Contoh pembelajaran permukaan:
Seorang murid belajar tentang sistem pernapasan hanya dengan menghafal nama organ dan urutannya. Ia menjawab soal ujian dengan tepat, namun tidak mampu menjelaskan bagaimana proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi.
Contoh pembelajaran mendalam:
Sementara itu, siswa lain tidak hanya menghafal organ, tetapi mencoba memahami fungsi setiap bagian dan proses fisiologis yang terlibat. Ia dapat menjelaskan mengapa seseorang bisa sesak napas, bagaimana olahraga memengaruhi respirasi, dan apa hubungannya dengan kesehatan.
Dari contoh ini terlihat dengan jelas bagaimana pembelajaran mendalam menghasilkan pemahaman bermakna yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
I. Peran Guru dalam Mendorong Pembelajaran Mendalam
Guru memiliki peran kunci dalam menentukan apakah siswa belajar secara mendalam atau permukaan. Guru dapat mendorong pembelajaran mendalam melalui:
- memberikan pertanyaan tingkat tinggi,
- mengurangi metode ceramah tunggal,
- memberikan kesempatan eksplorasi dan diskusi,
- menghadirkan projek atau problem-based learning,
- menghubungkan materi dengan kehidupan nyata,
- memberikan umpan balik konstruktif,
- memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya,
- tidak hanya menilai hafalan.
Guru juga perlu memahami bahwa pembelajaran mendalam tidak terjadi secara instan dibutuhkan proses, pengarahan, dan lingkungan yang mendukung.
J. Mengapa Pembelajaran Mendalam Penting untuk Abad ke-21
Di abad ke-21, dunia berubah sangat cepat. Banyak pekerjaan lama hilang, dan banyak pekerjaan baru muncul. Untuk bertahan dan berkembang, seseorang harus:
- mampu belajar secara mandiri,
- menguasai kemampuan berpikir kritis,
- mampu berkolaborasi dan berkomunikasi,
- menjadi kreatif dan inovatif,
- mampu memecahkan masalah kompleks,
- adaptif terhadap perubahan.
Semua kemampuan ini hanya dapat berkembang melalui pembelajaran mendalam, bukan pembelajaran permukaan.
Jika murid hanya menghafal, mereka tidak siap menghadapi tantangan dunia nyata yang membutuhkan pemikiran fleksibel dan pemahaman mendalam.
K. Kesimpulan: Perbedaan Utama Pembelajaran Mendalam vs Pembelajaran Permukaan
Secara garis besar, pembelajaran mendalam dan pembelajaran permukaan berbeda dalam berbagai aspek:
- motivasi: internal vs eksternal,
- cara berpikir: tinggi vs rendah,
- strategi belajar: analisis vs hafalan,
- hasil belajar: jangka panjang vs jangka pendek,
- keterampilan yang terbentuk: kritis-kreatif vs mekanis,
- kesiapan dunia nyata: siap beradaptasi vs cepat lupa.
Pembelajaran mendalam memberikan pemahaman yang bermakna, bertahan lama, dan dapat digunakan dalam kehidupan nyata, sedangkan pembelajaran permukaan hanya menghasilkan hafalan temporer.
Untuk menghasilkan generasi yang kompeten, kreatif, dan tangguh, sistem pendidikan harus mulai mengutamakan pembelajaran mendalam dalam setiap aspek proses belajar.
Demikian tentang Perbedaan Pembelajaran Mendalam vs Pembelajaran Permukaan atau Deep Learning vs Surface Leraning: Konsep, Ciri, dan Implikasi dalam Pendidikan. Semoga bermanfaat

Posting Komentar