CP Antropologi Fase F Kelas 11 dan 12 SMA/MA Pendekatan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Merdeka Semester 1 dan 2

Daftar Isi
 Capaian Pembelajaran/CP Antropologi Fase F Kelas 11 dan 12 SMA/MA Pendekatan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Merdeka Semester 1 dan 2
CP Antropologi Fase F Kelas 11 dan 12 SMA/MA Pendekatan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Merdeka Semester 1 dan 2

A. Rasional

Mata pelajaran Antropologi memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman yang komprehensif tentang manusia dan dinamika sosial budaya. Sebagai ilmu yang meneliti manusia dalam berbagai dimensi atau holistik. 

Dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) Antropologi tidak hanya memberikan wawasan teoritis, tetapi juga melatih keterampilan berpikir kritis, reflektif, dan analitis. Dalam konteks pembelajaran mendalam, Antropologi mendukung pengembangan delapan dimensi profil lulusan yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan murid dalam memahami keberagaman dan kompleksitas masyarakat. 

Secara filosofis, Antropologi berakar pada beberapa prinsip utamanya, yakni: bersifat humanistik, holistik, pendekatan emik dan etik, relativisme budaya, serta kritis dan reflektif. 

Prinsip humanistik dalam Antropologi mengajarkan bahwa setiap budaya memiliki nilai dan makna yang perlu dipahami secara kontekstual. Holistik menjelaskan bahwa manusia dan masyarakat tidak bisa dipahami hanya dari satu aspek saja, melainkan dari berbagai dimensi yang saling berkaitan. 

Pendekatan emik dan etik sangat dikenal dalam Antropologi, secara sederhana pendekatan emik menganalisa perilaku seseorang dengan mendapatkan informasi dari pelaku budayanya sendiri (native’s point of view), sementara etik menganalisa perilaku atau gejala dari sudut pandang luar atau perspektif seorang peneliti (scientist’s point of view). Relativisme budaya merupakan sikap menghindari bias etnosentrisme dan mengajarkan apresiasi terhadap perbedaan budaya. 

Kritis dan reflektif harus dimiliki dalam proses pembelajaran. Perubahan sosial dan budaya yang disebabkan oleh berbagai faktor berdampak pada pola perilaku kebudayaan masyarakat. 

Oleh karena itu, Antropologi dengan prinsip etis-emik, relativisme, serta pendekatan reflektif-kritis diperlukan oleh murid sebagai pembelajar sepanjang hayat. Antropologi, mendorong murid untuk berpikir secara mendalam terhadap fenomena sosial dan perubahan budaya. 

Oleh karena itu, secara filosofis prinsip-prinsip dalam materi Pembelajaran Antropologi sejalan dengan pengembangan delapan dimensi profil lulusan, yaitu (1) keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME, (2) kewargaan, (3) penalaran kritis, (4) kreativitas, (5) kolaborasi, (6) kemandirian, (7) kesehatan, dan (8) komunikasi. 

Mata Pelajaran Antropologi memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan IPTEKS, karena berkontribusi dalam memahami dampak perubahan sosial akibat teknologi dan inovasi. Beberapa relevansinya, antara lain: Antropologi membantu memahami bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, seperti digitalisasi, kecerdasan artifisial, dan media sosial. 

Melalui Antropologi Medis, mata pelajaran ini membahas bagaimana faktor budaya mempengaruhi praktik kesehatan, pengobatan tradisional, dan sistem kesehatan modern. 

Melalui Antropologi Ekologi mempelajari interaksi manusia dengan alam dan dampaknya terhadap keberlanjutan lingkungan. Sementara itu, Antropologi juga mendokumentasikan, melestarikan, dan mengkaji ekspresi seni serta warisan budaya dalam berbagai masyarakat. 

Sebagai rumpun ilmu sosial-budaya yang mempelajari manusia, Antropologi memiliki hubungan erat dengan berbagai bidang lain, di antaranya: sosiologi, sejarah, ekonomi, politik, hukum, dan psikologi.

B. Tujuan 

Mata pelajaran Antropologi bertujuan memfasilitasi murid untuk: 
  1. memahami, menganalisis, dan merefleksikan berbagai fenomena budaya manusia melalui pendekatan ilmiah yang holistik, kontekstual, dan kritis, dengan menekankan pada konsep dasar Antropologi sebagai disiplin ilmu; 
  2. menanamkan nilai-nilai dalam prinsip dasar Antropologi dalam menciptakan bangsa yang beradab, menguatkan kegotongroyongan, dan responsif terhadap kebhinekaan global;
  3. meningkatkan kemampuan metodologis dalam menggali data budaya secara mendalam melalui pengalaman lapangan serta membaca dan menganalisis karya etnografi secara kritis untuk menghasilkan pemahaman yang utuh tentang kehidupan suatu manusia; 
  4. meningkatkan pengetahuan dan mampu berpikir kritis dalam praktik berkebudayaan pada konteks ruang dan waktu untuk melestarikan kebudayaan secara kreatif; dan 
  5. mengembangkan kemampuan adaptif dan reflektif dalam menerima kebudayaan lain, khususnya terkait kebhinekaan nasional dan global sehingga proses transformasi sosial dapat berkembang.

C. Karakteristik

Antropologi termasuk rumpun ilmu sosial-budaya yang mempelajari manusia, yakni manusia sebagai makhluk secara fisik, manusia pada masa prasejarah, dan manusia dengan sistem kebudayaannya. Kelahiran Antropologi erat kaitannya dengan etnografi, baik etnografi sebagai metode penelitian maupun etnografi sebagai produk penelitian. Antropologi mengkaji manusia dan kompleksitasnya dengan menggunakan pendekatan holistik untuk mendapat perspektif emik. Pendekatan ini dilakukan melalui partisipasi langsung dengan fokus kajiannya. 

Jadi, Antropologi mampu memahami fokus penelitiannya secara detail dan menghasilkan penjelasan yang mendalam (thick description). Capaian pembelajaran Antropologi didasarkan pada pertimbangan kemampuan bernalar murid pada tingkat pendidikan menengah. Ciri pokok perkembangan murid pada fase tersebut adalah mampu berpikir abstrak, logis serta menganalisis secara deduktif dan induktif mengenai berbagai fenomena sosial-budaya. Kemampuan bernalar secara deduktif dan induktif yang dimaksud adalah murid mampu mengidentifikasi masalah, mencari jawaban, menarik kesimpulan, menafsirkan, dan mengembangkan pemahamannya.  

Elemen dan deskripsi elemen mata pelajaran Antropologi adalah sebagai berikut.

1. Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep mata pelajaran Antropologi meliputi kemampuan murid untuk menjelaskan konsep dasar Antropologi sebagai disiplin keilmuan, termasuk sejarah perkembangan, ruang lingkup, dan prinsip-prinsip seperti native’s point of view (pendekatan emik), relativisme budaya, thick description (deskripsi tebal) dan holistik, serta mengintegrasikannya secara bermakna dan kontekstual dalam menganalisis fenomena budaya, dengan pemahaman bahwa unsur-unsur kebudayaan saling mempengaruhi dan berhubungan; menjelaskan metode penelitian etnografi sebagai ciri khas utama dalam Antropologi dengan akan mempelajari metode, teknik, dan prinsip etnografi dalam menggali data secara mendalam melalui keterlibatan langsung di lapangan dan membaca hasil karya etnografi secara kritis, sehingga mampu menghasilkan gambaran utuh tentang kehidupan dan budaya suatu komunitas; memahami bahwa kebudayaan merupakan objek kajian utama dalam Antropologi yang melibatkan konsep dasar dan unsur-unsur budaya, yang terus berkembang seiring dengan perubahan sosial, teknologi, dan interaksi antarbudaya; memahami bahasa dan sistem religi tidak hanya sebagai bagian unsur universal dalam kebudayaan tetapi juga sebagai bagian dari sistem simbol dan kepercayaan yang hadir dalam kehidupan manusia; menganalisis konsep dasar dan fungsi organisasi sosial, termasuk keluarga dan sistem kekerabatan sebagai bagian dari struktur sosial di Masyarakat; dan menganalisis problematika keberagaman budaya sebagai realitas dalam kehidupan masyarakat yang multikultural dan masyarakat digital. 

2. Keterampilan Proses
Pembelajaran Antropologi mendorong murid mampu mengaplikasikan metode penelitian etnografi secara sederhana sebagai bagian dari keterampilan dasar dalam Antropologi. Murid mampu menerapkan prinsip relativisme budaya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman nilai dan norma budaya. Murid mampu mengaplikasikan pendekatan emik dan etik dalam praktik, serta merefleksikan pengalaman mereka dalam menggunakan metode penelitian etnografi sederhana. murid menganalisis dan mengevaluasi temuan mereka dengan memperhatikan bagaimana perspektif emik dan etik dapat mempengaruhi pemahaman mereka tentang dinamika sosial dan budaya. Melalui refleksi ini, murid diharapkan dapat mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam melakukan penelitian lapangan serta memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang interaksi sosial dan kebudayaan. Selain itu, murid mampu mengembangkan rekomendasi atau solusi berdasarkan temuan mereka yang dapat bermanfaat untuk mempromosikan pemahaman lintas budaya dan menghargai keragaman budaya di komunitas mereka.

D. Capaian Pembelajaran

CP Antropologi Fase F Kelas 11 dan 12 SMA/MA Pendekatan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Merdeka Semester 1 dan 2

Fase F (Umumnya untuk Kelas XI dan XII SMA/MA/Program Paket C) 
Pada akhir Fase F, murid memiliki kemampuan sebagai berikut. 

1. Pemahaman Konsep 
Menjelaskan konsep dasar Antropologi sebagai disiplin keilmuan, termasuk sejarah perkembangan, ruang lingkup, dan prinsip-prinsip seperti native’s point of view (pendekatan emik), relativisme budaya, thick description dan  holistik, serta mengintegrasikannya secara bermakna dan kontekstual dalam menganalisis fenomena budaya, dengan pemahaman bahwa unsur-unsur kebudayaan saling mempengaruhi dan berhubungan; menjelaskan metode penelitian etnografi sebagai ciri khas utama dalam Antropologi dengan akan mempelajari metode, teknik, dan prinsip etnografi dalam menggali data secara mendalam melalui keterlibatan langsung di lapangan dan membaca hasil karya etnografi secara kritis, sehingga mampu menghasilkan gambaran utuh tentang kehidupan dan budaya suatu komunitas; memahami bahwa kebudayaan merupakan objek kajian utama dalam Antropologi yang melibatkan konsep dasar dan unsur-unsur budaya, yang terus berkembang seiring dengan perubahan sosial, teknologi, dan interaksi antarbudaya; memahami bahasa dan sistem religi tidak hanya sebagai bagian unsur universal dalam kebudayaan tetapi juga sebagai bagian dari sistem simbol dan kepercayaan yang hadir dalam kehidupan manusia; menganalisis konsep dasar dan fungsi organisasi sosial, termasuk keluarga dan sistem kekerabatan sebagai bagian dari struktur sosial di masyarakat; menganalisis problematika keberagaman budaya sebagai realitas dalam kehidupan masyarakat yang multikultural dan masyarakat digital.

2. Keterampilan Proses
Mengaplikasikan metode penelitian etnografi secara sederhana sebagai bagian dari keterampilan dasar dalam Antropologi; menerapkan prinsip relativisme budaya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman nilai dan norma budaya; mengaplikasikan pendekatan emik dan etik dalam praktik, serta merefleksikan pengalaman mereka dalam menggunakan metode penelitian etnografi sederhana; menganalisis dan mengevaluasi temuan mereka dengan memperhatikan bagaimana perspektif emik dan etik dapat mempengaruhi pemahaman mereka tentang dinamika sosial dan budaya; mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam melakukan penelitian lapangan serta memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang interaksi sosial dan kebudayaan; dan, merekomendasi atau solusi berdasarkan temuan mereka yang dapat bermanfaat untuk mempromosikan pemahaman lintas budaya dan menghargai keragaman budaya di komunitas mereka.  


Posting Komentar